Sistem kerja borongan yang diterapkan ini mulai berkembang dan memiliki 15 tenaga kerja yang berasal dari berbagai kelompok umur. Salak yang dipilih untuk diolah bukanlah salak gula pasir melainkan salak biasa yang sudah tidak bisa dimakan sebagai buah diolah menjadi bernilai jual yang ekonomis.  Selain salak, umbi- umbian juga diolah oleh KWT Putri Mandiri karena jika tidak musim salak KWT Putri Mandiri tetap bisa memproduksi barang untuk dijualkan.

Kerja keras Ni Wayan Murdani selaku Ketua KWT Putri Mandiri dalam menyiasati berlebihnya produksi salak ini telah banyak mendapat apresiasi dari pemerintah pusat, contohnya pada November 2016 lalu Murdani diterima langsung oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta. Beberapa piagam lainnya juga banyak terpajang  di dapur tempat memproduksi olahan salak dan umbi- umbian tersebut. “ya kita masih kurang perhatian dari pemerintah dalam hal pemasaran” ungkap Ni Wayan Murdani

Kelompok warga tani memulai dengan inovasi-inovasi yang menarik dari proses pengolahan hingga pemasaran. Pengolahan yang dilakukan secara rumahan menjadikan pemasukan untuk perekonomian bagi setiap keluarga. Masyarakat sekitar menggunakan cara traditional dalam proses pengolahannya.